Dalam doktrin Allah Tritunggal, setiap oknum Allah berbeda, tetapi mereka semua adalah Allah.
Dalam istilah "waktu", contohnya, masa lampau berbeda dengan masa kini yang juga berbeda dengan masa depan. Kalau kita berada pada satu titik waktu, kita memiliki masa lampau, masa kini, dan masa depan. Walaupun demikian semuanya tidak disebut tiga "waktu," tapi satu. Mereka semua berbagi sifat yang sama: waktu.
Dalam istilah "ruang", tinggi berbeda dengan luas, yang berbeda dengan dalam, yang berbeda dengan tinggi. Tapi semuanya tidak disebut tiga "ruang", tapi satu. Mereka semua berbagi sifat yang sama: ruang.
Dalam istilah "wujud", padat tidak sama dengan cair, dan tidak sama juga dengan gas, yang berbeda dengan padat. Tapi semuanya tidak dapat disebut tiga "wujud", tapi satu. Mereka semua berbagi sifat yang sama: wujud.
Perhatikanlah bahwa ada tiga set di mana masing-masing set memiliki tiga bagian. Jika kita memperhatikan jagat raya dan menemukan hal seperti ini di dalamnya, adilkah jika kita mengatakan bahwa ada ciri khas sentuhan Allah pada ciptaan-Nya? Saya kira ya.
Kita membaca dalam Firman Tuhan, dalam 1 Yahya 4:8 bahwa "Tuhan adalah Kasih". Perlu kondisi yang bagaimanakah supaya pernyataan itu tergenapi? Untuk setiap peristiwa "kasih" kita memerlukan subyek yang mengasihi, obyek untuk dikasihi, dan pengungkapan kasih itu sendiri. Saya tidak dapat mengasihi jika saya "hanya sendiri". Memusatkan perhatian pada diri sendiri adalah egoisme, bukan kasih. Sekarang, bagaimana Allah MENJADIKAN DIRINYA Kasih jika Dia sendiri adalah dalam "kesendirian"-Nya dari kekekalan masa lampau? Tidak ada sifat/atribut Allah yang bergantung pada ciptaan-Nya. Augustinus berkata bahwa Bapa dan Putra saling mengasihi satu sama lain selama-lamanya, saling memberi dan menerima, dan Roh Kudus seperti saluran kasih antara yang satu dengan lainnya.