| 4. Hazrat Isa Penyelamat Atau Pembuat Onar
(kekacauan)? |
A. Sebab Allah mengutus anakNya ke dunia bukan untuk menghakimi
dunia tetapi untuk menyelamatkannya oleh Dia (Yahya 3:17)
B. Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di
atas bumi, Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang. Sebab Aku datang untuk
memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari
mertuanya, dan musuh orang ialah seisi rumahnya. (Matius 10:34-36)
Kalimat A. menguraikan maksud Tuhan dengan mengutus Yesus ke dunia.
Tuhan sendiri tidak ingin membawa pedang, bukan. Tuhan berkeinginan untuk menyelamatkan
manusia. Namun manusia diberi kemampuan membuat pilihannya sendiri dan berada dalam
keadaan berdosa atau dengan kata lain berontak terhadap Tuhan. Karena itu boleh terjadi
keadaan menurut B. di atas, konflik antara manusia sendiri karena yang satu ingin
mengikuti Tuhan dan yang lain berontak terhadap Tuhan.
Kalimat B. adalah gambaran tentang reaksi negatif terhadap kehadiran Yesus di dunia.
Kegelapan dosa tidak tahan terhadap terang kebenaran, sehingga memberontak dan
pemberontakan ini yang mengakibatkan konflik yang diuraikan disini. Yesus pada Injil
Matius 10:34-36 mengatakan bahwa konflik ini pun boleh terjadi dalam satu keluarga.
Sepanjang sejarah terjadi banyak sekali kasus anggota keluarga yang marah karena ada
anggota keluarga lain yang bertobat mengenal Kristus dan menganut agama Kristian. Bahkan
di abad ke-20 sekarang, di beberapa negara di dunia masih ada orang Kristian yang dibunuh
oleh kerabat keluarga sendiri karena keluarga tidak setuju dengan keputusan masuk agama
Kristian.
Dalam hal ini, pedang yang dibawa, bukan oleh tangan orang yang baru masuk agama Kristian,
tetapi yang membawa pedang adalah penganut agama lain yang menuntut kematian anggota
keluarga yang meninggalkan agama lama yang dianut oleh keluarganya.
Ayat Matius 10:34-36 ini, sama sekali bukan berarti orang Kristian dengan sengaja mencari
konflik dengan keluarganya. Sesuai perintah lain dalam Al-Kitab, orang Kristian harus
menghormati dan mengasihi anggota keluarganya. Bahkan jikalau keluarga sendiri menjadi
musuh, mereka harus tetap dikasihi karena Yesus mengajar supaya orang Kristian mengasihi
musuhnya (Matius 5:44).
Dalam hal ini, tidak ada kontradiksi antara Yahya 3:17 dengan Matius 10:34-36, karena
reaksi negatif yang timbul terhadap orang yang masuk agama Kristian diakibatkan oleh dosa
dan pemberontakan di dalam orang atau bahkan anggota keluarga sendiri yang bereaksi
negatif alias mengangkat pedang.
Yesus pada lain tempat mengajarkan supaya tidak menggunakan pedang, tetapi yang
dimaksudkan pada ayat Matius 10:34-36 ini adalah pedang yang dibawa oleh mereka yang
menolok dan berontak terhadap pengajaran Yesus. Menurut Yesus, tidak semua orang akan
bereaksi dengan damai terhadap pemberitaan Injil. Akan juga ada orang-orang yang akan
bereaksi terhadap pemberitaan Injil dengan mengangkat pedang melawan mereka yang membawa
Injil itu.
(Kembali ke atas)
| 5. Membawa Tongkat atau Tidak? |
A. Janganlah kamu membawa bekal dalam perjalanan, janganlah kamu
membawa baju dua helai, kasut atau tongkat, sebab seorang pekerja patut mendapat upahnya.
(Matius 10:10)
B. Dan berpesan kepada mereka supaya jangan membawa apa-apa dalam
perjalanan mereka, kecuali tongkat, rotipun jangan, bekal pun jangan, uang dalam ikat
pinggang pun jangan, (Markus 6:8)
Pertanyaan ini menuduh bahwa penulis Injil menimbulkan kontradiksi
yang menyangkut adanya izin atau larangan bagi murid-murid-Nya untuk membawa tongkat dalam
perjalanan mereka.
Pertanyaan ini timbul karena salah paham mengenai penggunaan bahasa Hunani, yaitu
"ktaomai" dalam Injil Matius dan "airo" dalam Injil Markus,
kedua-duanya yang diterjemahkan dalam Alkitab bahasa Indonesia dengan menggunakan kata
"membawa."
Dalam Injil Matius dapat kita baca kata "membawa" (Alkitab King James:
"Provide" atau "sediakan") yang bersumber dari kata
"ktaomai" dalam bahasa Hunani. Sesuai kamus bahasa Hunani, kata ini berarti,
"mencari untuk keperluan sendiri, memperoleh, mendapatkan melalui proses pembelian
atau proses lain."
Sebagai informasi lagi, dalam Injil Matius terdapat kata lain yang digunakan untuk maksud
transaksi pembelian, yaitu "agorazo" sehingga "ktaomai" harus
diartikan lebih luas, yaitu fungsi logistik seperti "cari/peroleh/ambil" yang
konsisten dengan makna kata "take" dalam bahasa Inggeris. Karena itu, Yesus di
Injil Matius mengatakan: "Jangan mencari sesuatu lagi selain apa yang ada padamu.
Pergilah dalam keadaan seadanya."
Sedangkan kata bahasa Hunani untuk "membawa" dalam Injil Markus 6:8 adalah
"airo" yang sesuai arti luas untuk "take" dalam bahasa Inggeris, yaitu
'mengambil/mengangkat dan membawa" seperti halnya dengan bagasi atau barang bawaan.
Sehingga dalam hal ini, terdapat perbedaan arti pesan dalam Injil Matius dan Injil Markus.
Injil Matius memesan supaya tidak "memperoleh" tongkat dan lain-lain dalam arti
perolehan logistik sedangkan Injil Markus memesan supaya tidak "mengambil/mengangkat
dan membawa" kecuali tongkat.
Injil Matius 10 dan Injil Markus 6 sama-sama mengatakan bahwa Yesus menyuruh
murid-murid-Nya supaya tidak membawa perlengkapan _tambahan_. Sesuai Injil Matius 10:10
mereka tidak diperbolehkan untuk "ktaomai" atau mencari dan memperoleh serta
mengambil tongkat sebagai bagian dari perlengkapan perjalanan mereka. Sebaliknya menurut
Injil Markus 6:8, tampaknya mereka tidak dipesan untuk melepaskan atau membuang tongkat
yang sudah ada pada mereka.
Sehingga terlihat bahwa perbedaan kata bahasa Hunani antara ayat Injil Matius dan Injil
Markus menunjukkan tidak ada kontradiksi.
Namun jawaban ini bukan bersifat definitif, hanya merupakan penjelasan yang dimungkinkan.
Perbedaan sangat kecil antara ayat-ayat ini tidak mempengaruhi kesamaan isi substansi
Injil pada umumnya.
Seandainya perbedaan ayat-ayat ini benar-benar merupakan kontradiksi, karena pandangan
kami terhadap Injil tidak persis sama seperti yang diajarkan kepada orang Muslim mengenai
Al-Quran. Apabila perbedaan ayat ini merupakan puncak kontradiksi di Alkitab, padahal
Alkitab dianggap "penuh kontradiksi" dan "seluruhnya dipalsukan" maka
anggapan demikian tentunya merupakan khayalan belaka.
Seandainya para juru tulis dan penerjemah Kristian bermaksud mengubah naskah Injil yang
asli, tentunya "kontradiksi" yang demikian sudah dihilangkan dan tidak ada dalam
Injil yang ada dewasa ini. Perbedaan ini justru mendukung keaslian naskah sebagai
kesaksian yang ditulis melalui perantaraan manusia mengenai berbagai peristiwa yang
terjadi. Dalam hal ini, perbedaan ini menjadi tanda jelas bahwa tidak terjadi pemalsuan
naskah Injil sebagai tindakan sengaja.
(Kembali ke atas)
| 6. Matahari dan Bulan mengelilingi bumi atau
sebaliknya? |
A. Sekarang mari kita lihat dari segi ilmu pengetahuan yang
ternaktub dalam Bible, mengingat ada banyak sekali ayat yang membahas mengenai ini, maka
saya pilih saja satu diantaranya untuk kita padankan dengan AlQuran dan ilmu pengetahuan
modern.
B. Dalam Yosua 10:12,13 mengatakan bahwa matahari dan bulan itu
mengelilingi bumi (geosentris), padahal yang sebenarnya adalah heliosentris (bumilah yang
mengelilingi matahari).
Bagaimana mungkin Tuhan bisa salah dalam mewahyukan sesuatu hal
yang telah diciptakanNya sendiri?
Dalam Kitab Yosua diuraikan posisi matahari dari perspektif Yosua.
Hal ini lazim, karena setiap orang yang menggunakan bahasa Inggeris juga berbicara
mengenai "the rising of the sun" maupun "the setting of the sun"
walaupun mengetahui bahwa bukan matahari yang mengelilingi bumi tetapi sebaliknya. Tidak
ada perkataan di Kitab Yosua yang menunjukkan keadaan geosentris.
Dalam hal ini, orang yang ingin menyoalkan ayat-ayat Yosua ini perlu juga mengingat ayat
di Al-Quran yang berbunyi sebagai berikut (Sura 18:86):
"Hingga apabila dia telah sampai di tempat terbenam matahari,
ia melihat matahari terbenam di dalam laut yang berlumpur hitam ..."
Tentunya kaum Muslim berpegang pada keyakinan bahwa bumi berada
dalam keadaan heliosentris, yaitu bumi mengelilingi matahari. Meskipun Al-Quran
menceritakan mengenai matahari yang terbenam pada laut berlumpur hitam di bumi, kaum
Muslim tidak menganggap ada paham geosentris di dalam Al-Quran.
Sebaliknya, kaum Muslim cenderung mengatakan bahwa yang diceritakan di Al-Quran itu adalah
perspektif terhadap matahari dilihat dari mata seorang manusia (Zulkarnain), yang
memandang matahari terbenam. Yang diceritakan di Kitab Yosua juga menggambarkan perspektif
seorang manusia, karena berdiri di atas permukaan bumi yang nampaknya tidak bergerak dalam
posisinya terhadap matahari.
Jikalau Al-Quran boleh menceritakan mengenai matahari terbenam di laut berlumpur hitam dan
hal ini dan tidak dianggap mengajarkan hubungan matahari-bumi yang geosentris, maka demi
konsistensi dan kejujuran pendapat, tentunya ayat-ayat di Yosua yang disoalkan di atas,
juga tidak boleh dianggap mengajarkan keadaan geosentris seperti disoalkan. Karena itu,
tidak ada alasan bagi kaum Muslim untuk menyoalkan ayat-ayat Kitab Yosua yang disebut di
atas, dan tidak ada alasan bagi mereka untuk menyangka bahwa Alkitab salah menceritakan
mengenai ciptaan Tuhan.
(Kembali ke atas)