返回总目录
Mengapa Kita Mempercayai Keandalan Perjanjian Baru/KS INJIL
Mengapa
Kita Mempercayai Keandalan Perjanjian Baru
-
Keandalan Tekstual Mushaf Kitab Suci Injil/Perjanjian Baru
Beberapa orang
meragukan keakuratan substansial penyampaian dokumen-dokumen Perjanjian Baru
(Kitab Suci Injil ) setelah yang pertama kali dituliskan. Sejumlah orang mengatakan,
"Kami percaya kepada teks Injil yang asli, tapi kaum Kristen di abad selanjutnya
mengubah naskah hingga tak lagi dapat dipercaya !" atau yang lebih polos, "Apakah
Kitab Suci Injil yang kita miliki sekarang secara substansial sama sebagaimana
yang di abad pertama?" Tentu saja, para saudara Muslim kita sendiri membenarkan
bahwa dokumen-dokumen Kitab Suci Injil telah diubah secara substansial selama
penyebarannya, namun sebagaimana kita akan lihat, terdapat bukti yang berlimpah
yang membuktikan pernyataan-pernyataan tersebut amat keliru.
Bukankah
iman kita saja cukup...
Tak seharusnya kita membiarkan hal-hal semacam itu
menghindarkan kita dari mengenali pribadi Isa AlMasih ?
Keandalan atau pun kewibawaan
teks Kitab Suci Injil adalah suatu prasyarat mutlak bagi pengakuan
akan kesejarahan Kitab Suci Injil - karena tentu saja, bagaimana seseorang dapat
percaya bahwa sejarah itu benar kecuali teks mushafnya adalah benar ? Ketika
orang membaca Kitab Suci Injil, sulit untuk melewatkan kenyataan bahwa Kitab
Suci Injil memang memberikan penegasan terhadap kejadian-kejadian bersejarah
tanpa dapat dihindarkan, pada akhirnya, pertanyaan "Apakah bagian-bagian
yang berhubungan dengan sejarahnya itu nyata sebagai hakekat sejarah?"
memang muncul. Betapapun, orang tak dapat menghindari kenyataan bahwa Kitab
Injil benar bermaksud untuk melukiskan gambaran Yesus atau pun Al-Masih Isa
itu berdasarkan kepada fakta-fakta sejarah. Namun sebelum kita dapat mendiskusikan
kesejarahannya, kita harus berhadapan dengan isu keandalan naskah
dan mashaf Kitab Suci Injil .
Pada pokoknya, tak terdapat autograp
(biasanya diartikan sebagai suatu naskah asli atau manuskrip pengarang) Kitab
Suci Injil yang diketahui masih ada.[1] [Sama juga seperti tidak
terdapatnya autograp Qur’an yang masih tersisa karena Al-Bukhari mencatat
bahwa kalifah Uthman telah menghancurkan naskah-naskah kuno asli ke dalam api
unggun.] Apa yang kita memang miliki adalah salinan-salinan sohih Kitab Suci
Injil , baik dalam kitab utuh maupun fragmen-fragmennya. Masuki bidang pembahasan
tekstual yang disebut juga "kritikan halus dan rinci" yang berkaitan dengan
bentuk atau naskah serta mashaf Alkitab dan usaha-usaha untuk
mengembalikan bacaan-bacaan paling tepat mashaf asli yakni autograp.[2]
Banyak contoh dari analisa rinci dan halus yang memungkinkan untuk diamati
dalam sejarah penyampaian naskah Alkitab, ini yang harus kita perhatikan.
Dalam hal ini, bukti cukup jelas,
dan ada banyak - statistik yang kerap diberitakan mengenai lebih 24,000+
salinan Kitab Suci Injil atau nukilannya (dalam bentuk kitab utuh atau fragmen)
dikenal baik. Jadi apakah persoalan pokok dari semua ini?
Apakah
kupasan/analisa terhadap mashaf Kitab Suci Injil
berbeda dari kupasan tekstual naskah-naskah Sastera sekular ?
Secara prinsip, sama
sekali tidak.[3] Suatu diskusi yang mempertanyakan keandalan tekstual
tidak harus dimulai dengan diskusi tentang mungkin tidaknya Kitab Suci Injil
merupakan "naskah/mashaf kudus" atau "tidak bercela." Kita, mulai sekarang,
hanya mempedulikan bukti-bukti manuskrip dari Kitab Suci Injil
.
Bagaimana para
cendekiawan dan pakar-pakar mashaf melaksanakan tugas sulit penyusunan kembali
Teks Perjanjian Baru Yakni Kitab Suci Injil ?
Petunjuk yang ada bagi kritik
tekstual ada dua: eksternal dan internal (yang di luar
dan yang dalaman). Drs.Gleason Archer telah menyusun faktor-faktor petunjuk
eksternal dan internal ke dalam tujuh peraturan atau kanon berikut
ini dan secara hati-hati menyarankan bahwa, bila terdapat konflik dalam bacaan,
prioritas (keutamaan) harus diberikan berdasarkan aturan berikut ini:
1. Bacaan yang lebih awal
menjadi pilihan sebab lebih dekat kepada yang asli.
2. Bacaan yang lebih sulit
menjadi pilihan sebab para ahli tulis lebih cenderung menangani bacaan-bacaan
sulit.
3. Bacaan yang lebih singkat
dipilih karena para penyalin lebih cenderung menyisipkan bahan-bahan baru
daripada menghapuskan bagian naskah suci.
4. Bacaan yang paling dapat
menjelaskan varian lainnya menjadi pilihan.
5. Bacaan dengan dukungan
geografis paling luas menjadi pilihan, karena naskah-naskah atau versi-versi
mashaf seperti itu tidak begitu memiliki kecenderungan untuk saling mempengaruhi
satu sama lain.
6. Bacaan yang paling memiliki
gaya lazim pengarang menjadi pilihan.
7. Bacaan yang tidak mencerminkan
suatu penyimpangan atau penyelewengan doktrin menjadi pilihan. [4]
Peraturan-peraturan universal
ini secara umum diikuti, tapi biasanya setiap varian (perbedaan) bacaan
diputuskan secara tersendiri. Diskusi singkat tentang angka dan sifat varian-varian
Kitab Suci Injil termuat di bawah.
Dengan penggunakan kupasan
tekstual, seberapa banyak bagian dari Kitab Suci Injil dapat kita pulihkan dan
tetapkan sebagai sesuatu yang asli/asal?
Gagasan yang populer adalah bahwa
kupasan tekstual telah berhasil memulihkan naskah Kitab Suci Injil dengan keakuratan
atau ketepatan sebanyak 99%. Itu adalah total dari tiga halaman dalam Alkitab
biasa tanpa catatan kajian yang diragukan. Tokoh A.T. Roberton mengusulkan bahwa
permasalahan kupasan tekstual sebenarnya adalah "seperseribu bagian dari
keseluruhan naskah" Kitab Suci Injil (yaitu sekitar sepertiga dari satu
halaman).
Itu akan membuat naskah Perjanjian
Baru yaitu mashaf Kitab Suci Injil yang telah direkonstruksi 99.9 persen
bebas dari permasalahan sebenarnya terhadap kupasan tekstual.[5]
Para pemuka kupasan tekstual,
Metzger dan Aland, sudah pasti akan menyetujui bahwa naskah yang ada sekarang
hingga 95% teks KSI adalah tanpa permasalahan dan hampir sekitar 97%
adalah sebagaimana aslinya [6]. Jadi hanya 1 sampai 3 persen
dari naskah yang rentan terhadap kemungkinan tuduhan penyimpangan ditangan para
penyalin.[7]
Ayat-ayat yang nampaknya mengandungi
perdebatan hampir tak memiliki pengaruh langsung terhadap doktrin dan akidah
Kristian manapun sehingga pesan yang disampaikan oleh naskah-naskah yang berlaku
sekarang sama seperti pendahulunya. Dengan kata lain, sebenarnya semua
naskah asli dapat diperoleh kembali. Ini yang penting.
Tuduhan : Bagaimana dengan
"ke-200,000 penyimpangan" ? (atau 50,000 sebagaimana disinggung oleh
Ahmad Deedat) [8]
Adalah sangat mudah untuk
memberikan kesan yang salah dengan mengatakan kononnya ada 200,000
"penyimpangan" menyusup ke dalam naskah KSI akibat kelalaian penulisan dan tindakan
pengkoreksian (pembetulan). Pertama-tama, marilah kita menyebutnya dengan istilah
yang tepat, yakni varian. Tak diragukan lagi terdapat, hingga
kini, 200,000 varian yang dikenal namun pertanyaan yang lebih penting adalah:
Bagaimanakah
varian-varian itu diperhitungkan ?
"Terdapat ketidak-jelasan
dengan menyatakan terdapat kononnya 200,000 varian dalam manuskrip Perjanjian
Baru/KSI yang masih tersisa karena semua itu hanya mewakili 10,000 tempat
dalam Perjanjian Baru. Bila satu kata tunggal telah salah eja dalam
3,000 manuskrip yang berbeda, ini dihitung sebagai 3,000 varian atau
bacaan. Sekali tata cara perhitungan ini dipahami, dan varian mekanis
(ortografik) telah disingkirkan, varian penting sisanya secara mengejutkan
berjumlah sedikit sahaja (penekanan saya). Harus diingat
bahwa pembuatan salinan manuskrip secara berganda dengan pencetakan dan
fotokopi relatif merupakan perkembangan baru dalam produksi buku moden."[9]
Seberapa pentingkah
varian-varian itu ?
Hanya 400 dari varian-varian
(kurang dari satu per halaman terjemahan bahasa Inggris) memiliki muatan
yang penting dalam arti pasalnya, dan kebanyakan tercatat pada bagian catatan-catatan
kaki atau margin dalam terjemahan moderen dan edisi-edisi Alkitabiah. Sebagaimana
yang diperkirakan oleh Drs.Philip Schaff, tokoh sejarah Gereja itu, dari hitungan
400 yang tersisa dari 150,000 pada masanya, hanya 50 yang benar-benar
nyata. [Jumlah ini sekarang masih tetap lebih kurang] Dan dari total semua
ini tidak satu pun terpengaruh "artikel tentang iman atau ajaran tentang
akidah dan kewajiban yang tidak didukung secara nyata oleh pasal-pasal lain
yang dapat dipercaya dan diyakini, atau oleh keseluruhan maksud ajaran AlKitab."[10]
Varian-varian tekstual yang
mempengaruhi lebih dari satu atau dua kalimat (dan kebanyakan hanya mempengaruhi
kata per kata atau sekelompok kata) hanyalah Yohanes 7:53-8:11 dan Markus 16:9-20.
Tak satupun dari pasal-pasal ini benar-benar seperti apa yang Yohanes ataupun
Markus tulis, walaupun kisah dalam Yohanes (tentang wanita yang ditangkap
atas perzinahan) tetap memiliki kesempatan cukup besar sebagai suatu
kebenaran.[11]
Pada akhirnya, ketika semua
kembali ke asal, gagasan populer tentang kupasan tekstual yang berhasil memulihkan
naskah-naskah Kitab Suci Injil dengan keakuratan 99% adalah kuat.
Tunjukkan pada
saya karya setempat yang memiliki varian-varian :
Tak perlu mencari jauh-jauh.
Sulalatus-Salatin (Sultan Saladin) yang terkenal pun, atau lebih dikenal
sebagai Sejarah Melayu, yang memiliki setidaknya 29 manuskrip, juga diketahui
memiliki varian-varian. Roolvink telah membuat suatu laporan singkat namun tepat
tentang berbagai versi Sejarah Melayu [12].
Teks yang umumnya dipakai
di sekolah-sekolah adalah edisi A. Samad Ahmad. Manuskrip yang mendasari edisinya
adalah Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia, DBP MSS 86A (c. 1808) yang berasal
dari Singapura (sebelumnya dimiliki oleh Munshi Muhammad Ali dari Singapura)
Teks DBP 86A disetarakan
secara dekat dengan manuskrip DBP 86 yang tak bertanggal, yang juga dipergunakan
oleh Samad Ahmad dalam redaksinya. Ada perbedaan-perbedaan yang penting antara
versi ini dan edisi-edisi terkenal lainnya terbitan Abdullah bin Abdul Kadir,
yaitu Shellabear[13] dan Winstedt. Salah satu contoh perbedaan ialah
di dalam teks ini : 'Hang Tuah berseteru dengan Hang Jebat' (sehingga
serupa dengan cerita yang dikisahkan dalam Hikayat Hang Tuah), sementara
baik dalam versi Shellabear dan Windstedt, seteru Hang Tuah adalah Hang
Kasturi. Perbedaan-perbedaan lainnya dibeberkan oleh Samad Ahmad
di dalam "Epilog" edisinya.[14]
Tanpa menghiraukan
keberadaan / kewujudan varian-varian itu, hal ini tidak menyulitkan pendiskusian
mengenai isi Sejarah Melayu [15]. Sebagai contoh, Noriah Taslim
[16] telah menggunakan gaya penulisan literatur Bremond dalam analisanya
mengenai konflik dan pemecahan dalam Sejarah Melayu. Dalam diskusinya,
seteru Hang Tuah adalah Hang Kasturi. (Lihat bukunya bab,"Memahami
Sejarah Melayu Melalui Strategi ‘Konflik dan Penyelesaian’: Satu Analisis
Mengikut Model Bremond" hal.110-124)
Kecurigaan
mengenai Ahmad Deedat dan cara-cara putar-belitnya.
Walaupun ia adalah pembicara
yang handal, ahli berpidato, tak banyak keyakinan yang sama dapat dikatakan
tentang hakekat tulisannya. Apakah tulisan-tulisannya pantas mendapatkan tanggapan
?
Jawabannya bukanlah suatu
hal yang mudah. Sulaiman yang paling bijaksana diantara manusia pun bimbang.
Dalam Amsal 26:4-5, Sulaiman menasehatkan :
"Jangan menjawab kebodohan
berdasarkan kebodohan, agar tidak kamu juga menjadi sepertinya,"
- dan dengan segera
pertimbangkan sebaliknya,
"Jawablah orang bodoh
menurut kebodohannya, agar tidak ia menganggap dirinya bijak."
Alasan mengapa penulis memberikan
pembahasan singkat tentang dia bukanlah untuk mencemarkan namanya, tapi untuk
memperingati pembaca potensial tentang kerancuan teori yang ia berikan:
Sungguh mengherankan bahwa
Deedat seakan tak menyadari bahwa Qur’an juga memiliki sejarah,
sebagaimana Alkitab. Hujahnya tentang varian adalah bahwa "keberadaan varian-varian
tersebut kononnya membatalkan Alkitab". Namun orang takkan menunggu lama,
(kecuali Deedat dan para pengikutnya tentu saja) untuk menemukan bahwa
varian-varian Qur’an itu ada dengan cukup banyaknya
[17]. Sebagaimana satu kupasan terkenal di internet menyebutkan:
Tinjauan Uthmanic
terhadap Qur’an kita miliki sekarang (kurang lebih) adalah suatu teks
komite. ‘Ketua’ komite pembahasan tekstual adalah Zaid bin Thabit.
Mereka memiliki versi pertama yang tidak mencakup beberapa ayat, dan kemudian
mereka membuat versi kedua dalam teks kerja mereka dan menyisipkan beberapa
hal yang mereka temukan selanjutnya. Kemudian ada hadist-hadist yang menguraikan
mengenai bagian-bagian Qur'an yang sama sekali tak terdapat disana,
dan dimana orang teringat beberapa "bagian dan kutipan" namun bukan
teks seutuhnya. Semua hadist tersebut telah dikutip berkali-kali
dalam berbagai kesempatan dan dapat ditemukan di http://answering-islam.org/Quran/Text/
Namun apakah Deedat sampai
pada kesimpulan yang sama tentang Qur’an sebagaimana terhadap Alkitab jika patokan-patokan
yang sama yang ia berlakukan pada Alkitab ia terapkan juga pada al-Qur’an
? Sepertinya dia tak menyadari atau menolak untuk mengakui kewujudan
varian-varian Qur’an yang keberadaannya bertentangan dengan pernyataan-pernyataan
Muslim ortodoks yang populer. Tentu saja, kita berharap kalau standard ganda
tidak diberlakukan di sini.
Bagaimanapun pada hakekatnya,
kami menasehatkan pendakwah dan propogandis (yaitu dawaganda) Islam,
supaya :
"Seseorang yang hidup
dalam rumah kaca, tak seharusnya melemparkan batu."
Karena apa ? Karena nanti
rumah si pelempar batu itu akan mengalami pecahan terlebih dulu !! Kami
ingin Deedat atau siapapun dari pengikutnya untuk lebih dulu mengurusi permasalahan-permasalahan
dalam teks Qur'an mereka sebelum mempermasalahkan milik orang lain. Bilakah
itu tak adil ? Kami menutupnya dengan sebuah tantangan kepada kaum Muslim:
Apakah yang akan anda
lakukan jika saat ini ada manuskrip Qur’an yang diketemukan lebih awal dari
semua yang kita miliki sejauh ini dan beberapa bagiannya memiliki sedikit
perbedaan-perbedaan dari yang tercetak saat ini? (Faktanya, beberapa telah
ditemukan di Sanaa, Yaman [18]). Akankah para cendekiawan
Muslim dan perusahaan penerbitan memiliki integritas dan keikhlasan yang
sama sebagaimana pihak Kristen mencetak Alkitab berdasarkan teks yang paling
dapat diakui ? Ataukah mereka akan mencoba menyembunyikan varian-varian
tersebut dan tetap mencetak teks yang sama untuk kemudian menegaskan bahwa
teks Qur’an tak pernah berubah bahkan satu huruf pun dan yang kita miliki
sekarang adalah juga yang dimiliki oleh kaum Muslim sebelumnya?
Adakah varian-varian dalam
Qur'an itu hanya merupakan salah-tafsiran sahaja ? Jauh sekali !
Kalau begitu tidak akan ada ramai orang-orang Islam yang berilmu dan yang
cukup berpengetahuan tentang agama Islam mereka yang sudah meninggalkan agama
Islam dengan cukup banyak ! Sebagai buktinya : hanya layarilah kepada situs-situs
bekas umat Islam ini seperti di situs-situs seperti :
http://www.faithfreedom.org/
dan juga di :
http://www.secularislam.org/
serta situs fikiran rasional Golshan dan lihatlah di dalamnya
banyak link-link berkaitan yang lain.
Adakah iman
dan akidah Kristen terpengaruh oleh berbagai 'bacaan varian' ?
Ini adalah isu yang terpenting
bagi rata-rata penganut, dan berita yang menggembirakan adalah: Tak satu pun
doktrin akidah Kekristenan yang tergantung walau sedikitpun pada varian
tekstual manapun. Ini sangat penting, sehingga perlu diulang bahwa tak
ada doktrin penting Perjanjian Baru/KSI yang tergantung pada suatu varian pun.[19]
Doktrin-doktrin yang diragukan ditegaskan dibagian lain, pada bagian-bagian
yang TIDAK memiliki perbedaan tekstual. Pengamatan Dr.Greenlee dalam bukunya
An Introduction
to New Testament Textual Criticism bahwa
:
"Tidak ada doktrin
atau ajaran Kristen, bagaimanapun, yang tergantung kepada mana-mana teks
yang diragukan; dan murid Perjanjian Baru harus hati-hati bila menginginkan
teksnya menjadi lebih ortodoks atau secara doktrin lebih kuat dari aslinya."
[20]
adalah sangat tepat sekali.
Tuduhan : Gereja selanjutnya
telah bersekongkol dan bersubahat untuk menghapuskan perbedaan dan membuat perubahan-perubahan
dengan maksud tertentu pada teks Kitab Suci Injil .
Yang dapat dikatakan adalah
persekongkolan seperti yang kerap didengungkan itu merupakan hal yang praktis
mustahil- takkan mungkin gereja dapat menghapuskan SEMUA bacaan-bacaan terkenal
dari suatu teks warisan!
Ketika suatu naskah atau
buku disalin, penyebarannya sangatlah luas hingga berbagai usaha untuk mengumpulkan
SEMUA manuskrip yang ada dan "menyelewengkannya" adalah hal yang mustahil.
Walaupun transportasi
di abad pertama seakan primitif bila dibandingkan dengan yang ada sekarang,
kita tak boleh melupakan bahwa Kerajaan Romawi telah mengembangkan sistem
transportasi dan perjalanan darat yang mengagumkan. Perdagangan dan perniagaan,
operasi-operasi militer, jasa pos, perjalanan pribadi dan pengkomunikasian
ide antar negara di lingkungan daerah Mediterania sangatlah luas. Ini
juga memungkinkan cepatnya penyebaran karya-karya literari, termasuk
manuskrip-manuskrip Perjanjian Baru (penekanan saya). Menurut tokoh
ilmuwan Epp, "Surat-surat dapat menjelajah sekitar 800 mil dalam dua bulan;
atau sekitar 350 mil dalam tigapuluh enam hari; atau 125 mil dalam tiga
minggu; atau sekitar 400 mil dalam empatbelas hari; atau 150 mil dalam empat,
enam, atau tujuh hari; atau limabelas mil dalam hari yang sama."
Skenario penyebaran
manuskrip yang serupa juga terulang di pusat-pusat Kekristenan lainnya...
Contohnya pada saat gereja di Alexandria, menerima salinan Markus,
para ahli penulis membuat salinan-salinan tambahan dari salinan yang mereka
dapat dan bukan dari karya asli Markus yang ditulis di Roma.
Prosedur yang sama sudah tentu diterapkan pada mashaf-mashaf Injil lainnya
dan juga pada surat-surat Paulus. Surat aslinya yang ditujukan kepada
jemaat di Roma disalin berulang kali sehingga pada saat bersamaan hampir
semua gereja masing-masing dapat dipastikan memiliki satu salinannya.[21]
Selama masa penganiayaan
dibawah pemerintahan Maharaja (Kaisar) Trajan (98-117 T.M. ) dan kekaisaran Romawi
lain berikutnya, kitab-kitab skriptur dibinasakan dan dibakar bila diketemukan.
Dalam usaha untuk mempertahankan skriptur, kitab-kitab tersebut dikubur dan
disembunyikan. Banyak yang kemudian diketemukan sekarang (lihat daftar naskah
masahif kuno [codex] KSI/Perjanjian Baru di bawah). Jadi bila ada SATU orang
yang mencoba untuk mengubah teks atau menyisipkan pendapat pribadinya ke dalam
skriptur di sepanjang rentang Kekaisaran Romawi hingga Afrika Utara, naskah-naskah
kuno ini sudah tentu akan dapat mengungkapkan penyimpangan tersebut. Namun
tak terdapat satu pun. Sebaliknya, papirus-papirus (naskah-naskah
lontar) yang baru-baru ini diketemukan menguatkan bahwa teks
yang kita gunakan sekarang ini pada dasarnya sama seperti yang dipergunakan
oleh gereja awal.
Selain itu, apa yang merupakan
bukti dan data langsung akan penyimpangan tekstual ? 95% kesalahan yang ditemukan
dalam teks Kitab Suci Injil diketahui sebagai hal yang tak disengajakan [22].
Ini termasuk juga surat-surat serupa yang berlebihan, pengulangan kata-kata
maupun kalimat, dan salinan buruk semata. 5% kesalahan sisanya termasuk revisi
ejaan dan tata bahasa, harmonisasi bagian buku yang serupa, penyisihan masalah-masalah
tekstual, dan, tentu saja, perubahan-perubahan secara teologis maupun doktrinal.
Namun, tidak ada bukti kukuh untuk mengatakan adanya persekongkolan atau
persuhabatan sistematis ataupun informal untuk merubah teks Kitab Suci Injil
. Kenyataannya ialah bahwa perubahan-perubahan setempat dalam teks bukanlah
suatu penyimpangan terhadap keseluruhan Perjanjian Baru. Sebagai contohnya,
sudah tentu tidak terdapat persekongkolan sistematis untuk melenyapkan referensi-referensi
mengenai darah tebusan Almasih Isa dari teks ataupun menyisipkan doktrin Tritunggal
walaupun memungkinkan [23]. Bagaimanapun juga, pengamatan terhadap mashaf-mashaf
lama yang terpelihara memungkinkan pengidentifikasian terhadap penyimpangan-penyimpangan
ini.
Juga merupakan hal yang
berlawanan dengan gagasan apapun, bahwa ada teks yang penting telah hilang ataupun
ditambahkan adalah bukti bahwa kupasan tekstual telah berlangsung seawal sejak
abad kedua dan ketiga Tahun Masihi ! Origen mengeluhkan kelalaian
dan kelancangan para penulis; Jerome telah mengawasi berbagai
kesalahan-kesalahan yang berkaitan dengan penulisan, dan sebagainya [24].
Dua orang Bapa gereja ini, setidaknya, telah bertugas menentang perubahan-perubahan
apa pun! (Terhadap hal ini kita juga dapat menambahkan bahwa ilmu yang berkaitan
dengan penulisan yang digunakan di Iskandariah pada Kitab Suci Injil di permulaan
peradaban juga memastikan adanya penanganan hati-hati terhadap teks.)
Singkatnya, nasehat JP Holding
mengenai tuduhan penyelewengan Kitab Suci Injil secara tekstual adalah tepat:
Hingga bukti tekstual
yang kukuh untuk perubahan-perubahan demikian ditemukan, semua keberatan-keberatan
diajukan yang pada kita tersebut adalah seperti suatu anggapan "spaghetti
yang dilontarkan ke dinding." Daripada menyebutkan beberapa kesulitan
mashaf yang benar-benar pasti, setahu kita, kritikan biasanya adalah
beberapa gagasan kabur dimana di suatu tempat, entah bagaimana, kita
pasti melalaikan SESUATU yang akan mengakibatkan permasalahan terhadap akidah
Kekristenan! Begitu juga Ehrman [Ehr.OxC, 46n], biarpun ia
baru menemukan beberapa lusin penyimpangan - yang dapat diidentifikasikannya
karena buku-buku aslinya masih ada! - tak dapat menahan untuk berspekulasi
bahwa sebenarnya terdapat "ratusan" penyimpangan yang belum terkuak.
Ini lebih menyerupai tukang tilik yang membawa papan bertuliskan "DUNIA
AKAN KIAMAT BESOK" - dengan keyakinan bahwa suatu hari, ramalannya akhirnya
akan menjadi kenyataan! Sebaliknya, bukti-bukti kukuh yang ada pada kita
hari ini jauh lebih kuat dan menunjukkan bahwa kita MEMANG memiliki "teks
asli" Kitab Suci Injil - hanya tercampur dengan "varian-varian yang bukan
asli," dan adalah suatu hal yang spekulatif untuk mempercayai bahwa
kita telah kehilangan bagian-bagian yang asli [25].
Tuduhan
: Keandalan tekstual dan jumlah manuskrip tidak serta merta membuktikan keandalan
historis Alkitab
Tunggu
sebentar. Tak seorangpun menyatakan bahwa keandalan tekstual = keandalan
historis. Pendapat demikian adalah bodoh. Namun seperti yang telah dikemukakan
di awal, seseorang tidak dapat menyatakan bahwa sejarah yang direkam oleh suatu
teks adalah akurat kecuali bila teks itu sendiri terekam secara akurat!
Selanjutnya,
terdapat alasan-alasan untuk pengutipan jumlah mengejutkan dari manuskrip-manuskrip
Kitab Suci Injil yang ada:
1. Tak
seorangpun dapat dengan tepat mempersoalkan bahwa kita tak memiliki sumber
material yang cukup bagi Kitab Suci Injil .
2. Tak
seorang pun dapat menunjukkan keberatan di atas tanpa membuat keberatan-keberatan
serupa tentang dokumen-dokumen dan Kitab-kitab kuno lainnya sebagaimana yang
kita boleh lihat kemudian.
Sekarang
kita lihat dasar terhadap kedua alasan yang telah disebutkan.
Alasan 1: Ujian Bibliografis
bagi Mushaf Kitab Suci Injil
Ujian bibliografis adalah
suatu analisis rinci mengenai penyebaran suatu teks dokumen sepanjang abad hingga
mencapai kita. Kita akan menguji manuskrip-manuskrip Kitab Suci Injil ini untuk
melihat seberapa baik penyebarannya dan rentang waktu antara yang asli dan salinan-salinan
karena kita tak memiliki lagi yang asli.
Pertama-tama, perincian
bukti manuskrip Perjanjian Baru yang kita miliki sekarang:
A. MANUSKRIP YUNANI
|
Daftar Manuskrip
|
Skrip
Uncial
|
Skrip Minuscule
|
|
Papyri P1-P88
|
88
|
|
|
Uncials MSS 01-0274
|
274
|
|
|
Minuscules MSS 1-2795
|
|
2795
|
|
Lectionaries l1-l2209
|
245
|
1964
|
|
Jumlah
|
607
|
4759
|
Jumlah total lectionari
Kitab Suci Injil : 2,209
Jumlah total manuskrip
Kitab Suci Injil : 5,366 [26] (sehingga 1976
TM)
B. MANUSKRIP NON-YUNANI
[27]
Latin Vulgate
10,000+
Ethiopic 2,000+
Slavic 4,101
Armenian 2,587
Syriac Peshitta
350+
Bohairic 100
Arabic 75
Old Latin 50
Anglo Saxon 7
Gothic 6
Sogdian 3
Old Syriac 2
Persian 2
Frankish 1
TOTAL: 24,650+
Dari semua itu manuskrip
Yunani yang terpenting adalah sebagai berikut (manuskrip tertanda
'Pnomer'
berarti papirus dan nomer petunjuknya):
P52,
Fragmen John Rylands . (sekitar T.M. 117-138.)
2 1/2 kali
3 1/2 inchi, papirus penggalan naskah kuno (codex) ini adalah salinan paling
awal dari suatu bagian Perjanjian baru yang ditemukan. Ditulis dalam satu
generasi saat Yohanes menulis Injil bagiannya, memuat bagian lima ayat yaitu
Yohanes 18:31-33 dan 37-38. Tokoh Adolf Deissman berpendapat bahwa waktu
penaggalannya bisa lebih awal lagi [28]. Kemungkinan adalah salinan
teks yang asli.
P45,
P46 dan P47, Papirus Chester Beatty (sekitar T.M. 250).
P45
tersusun dari tigapuluh lembar suatu naskah papirus kuno : dua dari Matius,
dua dari Yohanes, enam dari Markus, tujuh dari Lukas, dan tigabelas dari Kisah
Rasul-Rasul. Semuanya berasal dari sekitar 200-250 setelah Masehi (T.M.
). Semuanya ini merupakan kesaksian yang paling dapat dipercaya bahwa Injil
yang kita miliki hingga kini adalah sebagaimana aslinya tertulis. P46
juga berasal dari sekitar tahun 250 T.M. dan memuat delapanpuluh-enam lembar
yang mencakup Roma, Ibrani, 1 &2 Korintus, Efesus, Galatia, Filipi, Kolose,
dan 1 & 2 Tesalonika. Tak termasuk bagian 1 & 2 Tesalonika dan Roma.
P47 berasal dari sekitar tahun
250 T.M. dan memuat Wahyu 9:10-17:2.
P66,
P72, P75. Papirus Bodmer (Abad ke-2 ke-3 T.M.)
P66 berasal dari
sekitar tahun 200 T.M. atau lebih awal dan memuat Yohanes 1:1-6:11, 6:35b-14:26
dan 40 fragmen dari Yohanes 14-21. P72 merupakan salinan terawal
Yudas, dan 1 & 2 Petrus yang diketahui. Yang mana juga memuat banyak
kitab-kitab yang diragukan (aprokripal) seperti Keputeraan al-Masih Isa
oleh Siti Maryam (Nativity of Mary), kesebelas Syair Pujian Sulaiman,
Surat Yudas, Homili Melito saat Paskah dan sebagainya[29]. P75 (sekitar
200 T.M.) adalah naskah kuno yang memuat sebagian besar Lukas dan Yohanes.
Naskah
kuno / Mashaf (Codex) Vaticanus (B) (Sekitar 325-350 T.M.)
Tertulis
pada kulit binatang atau kertas kulit, merupakan salinan manuskrip yang memuat
sebagian besar Perjanjian Lama (LXX) dan Baru (Yunani) dengan bagian-bagian
Aprokripa dan merupakan kesaksian penting terhadap keseluruhan teks yang kita
miliki sekarang. Yang tak terdapat dalamnya adalah Kejadian 1:1-46:28, 2
Raja-raja 2:5-7 dan 10-31 dan Mazmur 106:27-138:6, 1 Timotius hingga Filemon
dan Ibrani 9:14 hingga akhir Perjanjian Baru, kemungkinan karena sudah lapuk
dan terobek.
Naskah
Kuno (Codex) Sinaiticus [ALEPH] (sekitar 340 T.M. )
Salinan
Perjanjian Baru dari abad ke-empat ini (Aleph) adalah kesaksian yang menakjubkan
bagi teks Perjanjian Baru yang kita miliki sekarang ini karena sangat kuno,
tepat serta akurat dan tak bercela. Memuat keseluruhan Perjanjian Baru dan
lebih dari setengah Perjanjian Lama (LXX). Kisah penemuan Aleph merupakan
salah satu yang paling menakjubkan serta menarik sekali dan meyakinkan sepanjang
sejarah tekstual [30].
Naskah
Kuno (Codex) Alexandrinus (A) (sekitar 450 T.M. )
Codex Alexandrius hanya
ranking kedua kepada Sinaiticus dan Vaticanus dalam mewakili teks
Perjanjian Baru. Bila saja tidak terlambat 20 tahun tiba di Inggris, sudah pasti
menjadi salah satu manuskrip utama yang dipergunakan dalam terjemahan Versi
King James 1611. Dipersembahkan kepada Raja Charles I di tahun 1627 walaupun
sebenarnya dimaksudkan bagi King James I yang meninggal sebelum Codex ini tiba
di Inggris. Memuat keseluruhan Perjanjian Lama, kecuali beberapa mutilasi,
dan sebagian besar Perjanjian Baru (kecuali Matius 1:1-25:6, Yohanes
6:50-8:52 dan 2 Korintus 4:13-12:6).
Naskah
Kuno (Codex) Ephraemi Rescripticus (C) (c. 345 T.M. )
Berasal dari luar Alexandria,
Mesir dan merupakan suatu palimpsest (dokumen yang terhapus) yang dipulih-tuliskan
kembali. Dituliskan kembali oleh pengajaran-pengajaran St. Ephraem tapi dipulihkan
dengan suatu proses pengaktifan secara kimia dalam tahun 1800-an. Disimpan di
Perpustakaan Nasional di Paris, berisikan sebagian besar Perjanjian Baru
(tak termasuk 2 Tesalonika, 2 Yohanes, dan bagian-bagian buku lainnya) dan bagian-bagian
Perjanjian Lama)
Naskah
Kuno (Codex) Bezae (D) (sekitar 450 or 550 T.M. )
Manuskrip yang berasal dari
abad ke lima hingga enam ini adalah manuskrip dwibahasa (Yunani dan Latin)
tertua dari Perjanjian Baru yang diketahui. Berisikan Injil, Kisah Rasul-Rasul
(dengan beberapa bagian yang hilang) dan bagian-bagian 3 Yohanes.
Untuk daftar banyak
manuskrip lainnya silahkan merujuk pada Geisler dan Nix, juga Metzger.
Jadi, tanpa menghiraukan
banyaknya bacaan varian manuskrip Perjanjian Baru seperti yang disebutkan di
atas, terdapat bertumpuk-tumpuk manuskrip untuk perbandingan dan keterkaitan
dari bacaan-bacaan tersebut sehingga dapat sampai kepada yang paling benar.
Tak seorang pakar mashafpun pantas mengeluhkan bahwa kita tidak memiliki
sumber materi Kitab Suci Injil yang cukup.
Kita kini sampai pada bagian
terakhir kajian ini yang berhubungan dengan:
Alasan 2: Bagaimanakah
teks mashaf Perjanjian Baru saat dibandingkan dengan karya-karya kuno lainnya?
Apa dasar pemikiran pertanyaan
ini? Sebagaimana seorang penulis mengatakan :
"Seandainya Perjanjian
Baru secara tekstual benar-benar telah cacat bercela dan tak dapat dipercayai,
maka dapatlah diperkatakan bahwa setiap Kitab kuno lainnya adalah juga
cacat bercela dan tak dapat dipercaya."
Paul Copan dalam bukunya : True
for You, But Not for Me (Minneapolis)
[31]
Pada kesan pertama, beberapa
angka yang diberikan bagi manuskrip-manuskrip Kitab Suci Injil di bagian sebelumnya
mungkin terlihat seperti memiliki rentang waktu yang jauh antar salinan-salinan
itu, namun satu hal yang pelu diperhatikan sebelum melayangkan pendapat. Makna
bukti manuskrip kitab-kitab Kitab Suci Injil menjadi semakin jelas ketika kita
membandingkannya dengan bukti serupa bagi tulisan-tulisan yang kuno lainnya.
Perhatikan tabel/carta [32]
di bawah ini untuk perbandingan yang dimaksud.
|
Penulis/Buku
|
Tahun
Catatan
Autographnya
|
Salinan Terawal
|
Banyak salinan/rentang
waktu/% Keakuratan
|
|
Homer, Iliad
|
800 S.M.
|
|
643, (? th.),
95%
|
|
Herodotus, History
|
480-425 S.M.
|
sekitar 900 T.M.
|
8, (sekitar 350
th.)
|
|
Thucydides, History
|
460-400 S.M.
|
sekitar 900 T.M.
|
8, (sekitar 1300
th.)
|
|
Plato
|
400 S.M.
|
sekitar 900 T.M.
|
7, (sekitar 1300
th.)
|
|
Demosthenes
|
300 S.M.
|
sekitar 1100
T.M.
|
200, (sekitar
1400 th)
|
|
Caesar., Gallic
Wars
|
100-44 S.M.
|
sekitar 900 T.M.
|
10, (sekitar
1000 th.)
|
|
Livy, History
of Rome
|
59 BC- T.M. 17
|
abad ke-4 (sebagian)
sebagian besar abad ke-10
|
1 bagian, (sekitar
400 th.) 19 salinan, (sekitar 1000 th.)
|
|
Tacitus, Annals
|
100 T.M.
|
sekitar 1100
T.M.
|
20, (sekitar
1000 th.)
|
|
Pliny Secundus,
Natural History
|
61-113 T.M.
|
sekitar 850 T.M.
|
7, (sekitar 750
th.)
|
|
Perjanjian
Baru - Kitab Suci Injil
|
50-100 T.M.
|
sekitar 114 (fragment)
|
(10-30 th.)
|
|
|
|
sekitar 200 (buku)
|
(100 th.)
|
|
|
|
sekitar 250 (sebagian
besar Kitab Suci Injil )
|
(150 th.)
|
|
|
|
sekitar 325 (Kitab
Suci Injil lengkap)
|
(225 th.)
|
5366 Salinan,
99%+ Ketepatan
Sementara ribuan salinan
Perjanjian Baru sudah ada sebelum abad ke empat, disana tak ada satu pun kitab
yang dapat mempertunjukkan singkatnya perbedaan waktu antara salinan dan naskahnya
yang asli. Satu-satunya buku yang mendekati dalam hal angka adalah Iliad
(Syair epik Yunani) karya Homer dimana hanya 650 salinan yang masih ada
dan rentang waktu antara yang asli dan salinan yang paling awal adalah sekitar
1800 tahun.
Mengenai Iliad,
seringkali dipandang sebagai teks kuno kedua-terbaik dalam terminologi-terminologi
ini, keunggulan Kitab Suci Injil sangat nyata - menurut Wood [Wood.STW,124],
bagian terbesar dari manuskrip Iliad milik kita yang masih bertahan berasal
dari abad 14 dan 15, dengan manuskrip yang terbaik dan terawal berasal dari
abad 10. (Jadi, janganlah ada keberatan-keberatan tentang keberadaan, katakanlah,
manuskrip-manuskrip Akhir Abad Pertengahan di dalam total 24,000 itu.)[33]
Jadi dari peninjauan singkat
tentang kedekatan pada autograp (jaman) dan keserbaragaman manuskrip (jumlah),
Perjanjian Baru merupakan Kitab yang paling luas yang dapat dibuktikan
di dunia ini. Juga Kitab Suci Injil ini merupakan Kitab yang paling
bertahan di dunia, juga :
Tak ada Kitab lainnya
dalam sejarah kuno dapat mempamerkan sebegitu banyak dalil-dalil dokumentasi
[34], termasuk al-Qur'an.
Kemudian pakar sejarah Kitab
Suci Injil, Craig L. Blomberg:
Intinya hanyalah bahwa
bukti tekstual yang dituliskan oleh para pengarang Kitab Suci Injil jauh
melebihi dokumentasi yang kita miliki untuk tulisan kuno lainnya, termasuk
lusinan yang kita percaya telah terpelihara secara relatif utuh. Sama
sekali tak ada landasan (dasar) untuk menyatakan bahwa
edisi moderen standar Kitab Suci Injil Yunani tidak benar-benar
mirip dengan apa yang para penulis Kitab Suci Injil tuliskan [35].
Andaikan kedekatan autograp
dan keserbaragaman manuskrip belum cukup, kita dapat menambahkan lagi dengan
kutipan yang melimpah-limpah dari Bapak-bapak gereja awal dan salinan-salinan
awal Kitab Suci Injil yang berjumlah sangat besar.
Para Bapak Gereja
Tentang para Bapak gereja,
yang mana diskusi secara menyeluruh adalah diluar jangkauan kajian ini, kita
memiliki pernyataan Sir David Dalrymple sebagai pegangan. Ia pernah ditanya
"Seandainya Perjanjian
Baru telah dimusnahkan, dan tiap salinannya hilang segera setelah berakhirnya
abad ketiga, mungkinkah disusun kembali dari tulisan-tulisan para Bapak gereja
di abad kedua dan ketiga?"
Beliau telah menyelidikinya
secara terperinci dan kemudian memberikan pernyataan,
"Lihatlah buku-buku
tersebut. Ingatkan kamu akan pertanyaan tentang Perjanjian Baru dan para
Bapak gereja? Pertanyaan tersebut membangkitkan keingintahuan saya,
dan karena saya memiliki semua karya para Bapak yang ada di abad-abad
kedua dan ketiga, saya mulai untuk mencari dan hingga saat ini saya telah
menemukan keseluruhan Perjanjian Baru, kecuali sebelas ayat sahaja."[36]
Banyaknya jumlah versi
awal Kitab Suci Injil
Selanjutnya, keberadaan
dan kewujudan salinan-salinan autograp awal mendukung teks yang kita miliki
tidak hanya dalam manuskrip Yunani, tapi juga dalam Alkitab masakini
yang kita miliki. Hingga sampai tahun 200 TM, kanon KSI masih ada dalam
bahasa Ibrani, Yunani dan Latin. Versi Latin
Kuno berasal dari mulai abad kedua hingga keempat. Terjemahan Kitab
Injil Latinnya diselesaikan oleh St. Jerome di tahun 405T.M. [37]
Terdapat juga salinan-salinan Syriac (Aramik Kuno) dari abad-abad
keempat dan ketujuh. Ini termasuk Peshitta, Palestinian, Philoxenian
dan Harklea, kesemuanya merupakan dialek-dialek Aramik yang
berbeda dari dialek Koine (bahasa Yunani yang umum dipakai orang
ramai) yang mana dipakai dalam penulisan Perjanjian Baru. Juga terdapat versi-versi
Koptik (abad ketiga dan keempat), Gothic (abad
keempat), Armenian dan Georgian (abad kelima), Ethiopik
(abad keenam) [38] diantara lainnya. Gereja tertua yang masih ada hingga kini
adalah Gereja Koptik Ethiopia, yang walaupun dari abad keenam, mungkin
dimulai oleh para kasim Ethiopia seperti yang dicatat dalam Kisah Rasul-Rasul
pasal 8.
Kesimpulan
Tegasnya adalah: Dengan
teks Kitab Suci Injil kita yang wujud sekarang, yang kamu lihat adalah, hingga
kepada tingkat yang AMAT penting, sangat mungkin merupakan apa yang telah dituliskan.
Sama sekali tidak ada alasan atau bukti-bukti kukuh yang cukup untuk menyatakan
yang sebaliknya.
Apa kata tokoh-tokoh dan
ahli sejarawan bukan-Kristian (non-Christian scholars) pula ? Adalah
amat sesuai bagi kita memperhatikan kesimpulan-kesimpulan beberapa tokoh dan
pakar sejarah non-Kristian mengenai kesahihan teks dan masahif Kitab Suci Injil
(yaitu Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru) ini :
W.F. Albright, seorang pakar
arkeologi (kaji purbakala) yang amat disegani dalam bidang kepakaran beliau
telah berkata mengenai sejarah Al-Kitab :
"Kajian-kajian
Purbakala (arkeologi) telah membuktikan dan mendukung kesahihan sejarah
Al-Kitab Bible."
Seorang lagi tokoh arkeologi,
Nelson Glueck, juga telah menyokong pernyataan di atas dengan kesimpulannya
:
"Secara keseluruhannya
boleh dinyatakan bahawa tidak terdapat apa-apa penemuan ahli kaji purbakala
(arkeologi) yang telah pernah bercanggah atau bertentangan dengan sesuatu
rujukan dalam Al-Kitab Bible." [39]
Beliau juga menyatakan kesimpulan
dalam bukunya "Rivers in the Desert" :
"Penghafalan
sejarah Kitab Suci Injil (Bible) itu amatlah tepat dan mengagumkan
sekali." [40]
Jadi, sudah jelas bahawa tokoh-tokoh
bukan Kristian yang berwibawa juga sudah amat yakin akan kesahihan sejarah
Kitab Suci Injil serta mashafnya dan kewibawaannya. Umat Kristian sangat bangga
dan puas hati karena kewibawaan Kitab Suci Injil telah muncul lebih kuat dan
kukuh sesudah ia dianalisa dan diselidiki sedalam-dalamnya oleh kedua-dua tokoh-tokoh
dan ahli-ahli sejarawan yang beragama Kristian dan juga bukan Kristian.
Sebaliknya, apa pula yang dinyatakan
oleh tokoh-tokoh yang bukan-Islam mengenai al-Qur'an dan sejarahnya
? Inilah apa yang dikatakan oleh seorang sejarawan yang telah mengkaji agama
Islam dan sejarahnya cukup lama, J.J. Saunders dalam bukunya 'A History
of Medieval Islam' :
"Tidak ada mana-mana
ahli sejarah dan para ilmuwan yang bukan Islam hari ini yang mempersoalkan
bahawa al-Qur'an itu adalah gubahan pribadi Muhammad
sendiri." [41]
Yaitu, maksudnya ialah majoritas
para ilmuwan dan ahli-ahli sejarah bukan Islam hari ini terima hakekat
bahawa al-Qur'an itu dan kandungannya adalah hasil daripada minda dan pribadi
Muhammad sendiri semasa beliau di atas bumi ini - dan bukan ilahi seperti yang
dituntutnya !
J.J. Saunders bersambung kesimpulannya
mengenai al-Qur'an itu dengan berkata :
"Coraknya, serta rujukan-rujukannya
yang mencurigakan, dengan tarikh-tarikh (tanggal) surah-surahnya yang
kurang pasti lagi amat disangsikan, membuat al-Qur'an amat tidak
memuaskan sebagai sumber fakta sejarah." [42]
Apa lagi boleh dikatakan tentang
kesahihan mashaf al-Qur'an itu ? Tidaklah heran lagi bila terdapat didalamnya
banyak perkara yang bertentangan dan bercanggah dengan kebenaran. Terdapat banyak
di dalamnya yang bertentangan dengan fakta-fakta sejarah dan juga banyak yang
bertentangan dengan ilmiah saintifik, serta ada banyak perselisehan-perselisehan
didalamnya sendiri! Kalau tidak ada semua pertentangan-pertentangan dan kesangsian
itu, para ilmuwan sudah tentu tidak akan mengadakan kesimpulan jelas mengenai
al-Qur'an itu seperti yang di atas.
_____________________________________________________________________________________________
Rujukan-rujukan
:
[1] Lihat bab 2 buku Norman
L. Geisler dan William E. Nix, A General Introduction to the Bible, ed.
rev. (Chicago: Moody, 1986) untuk alasan-alasan tertentu Tuhan telah mengijinkan
autograp binasa, yang merupakan hal yang diluar jangkauan laporan ini.
[2] Norman L. Geisler dan William E. Nix, A General Introduction to the Bible,
ed. rev. (Chicago: Moody, 1986), hal. 433-435
[3] Lihat J.P. Holding http://www.integrityonline15.com/jpholding/tekton/Tekton_02_02_01.htm
sumber 9: McGann, Jerome J., ed. Textual Criticism and Literary Interpretation.
University of Chicago Press, 1985
[4] Archer, Gleason L., Jr. A Survey of Old Testament Introduction, ed.
rev. (Chicago: Moody, 1974), hal. 57-60
[5] Norman L. Geisler dan William E. Nix, A General Introduction to the Bible,
ed. rev. (Chicago: Moody, 1986), hal. 474
[6] Dikemukakan oleh saudara Jochen Katz pada soc.religion.islam
[7] Copan, Paul. True For You, But Not For Me, (Minneapolis, Minnesota:
Bethany House Publishers, 1998), hal. 98
[8] Deedat, Ahmad. "Is the Bible the God's Word?" The Choice: Qur'an
or the Bible (Batu Caves: Thinker's Library), hal. 12-14.
[9] Norman L. Geisler dan William E. Nix, A General Introduction to the Bible,
ed. rev. (Chicago: Moody, 1986), hal. 468
[10] Schaff, Philip. Companion to the Greek Testament and the English Version,
edisi ke 3., rev. (New York: Harper, 1883) hal 177 dikutip oleh Geisler dan
Nix dalam A General Introduction to the Bible, hal. 474
[11] Craig L. Blomberg, "The Historical Reliability of the New Testament"
dalam William Lane Craig, Reasonable Faith: Christian Truth and Apologetics,
ed. rev. (Wheaton, Illinois: Crossway Books, 1994), bab 6, n. 2: Lihat, contohnya,
Gary M. Burge "A Specific Problem in the New Testament Text and Canon:
The Woman Caught in Adultery (Yohanes 7:53-8:11)," Journal of the Evangelical
Theological Society 27 (1984): 141-8
[12] R. Roolvink, "The variant versions of the Malay Annals", Bijdragen
tot de Taal-, Land- en Volkenkunde 123:3 (1967), hal. 301-324
[13] Hunt, Robert. William Shellabear: A Biography (Kuala Lumpur: University
of Malaya Press, 1996) hal. 82
[14] A.Samad Ahmad (ed.), Sulalatus Salatin (Sejarah Melayu), Kuala Lumpur:
Dewan Bahasa dan Pustaka, 1979.
[15] Sejarah Melayu dibahas di berbagai bagian dalam: Ibrahim, Zahrah. (ed.),
Sejarah Kesusasteraan Melayu, Jilid II, (Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan
Pustaka, 1992.)
[16] Taslim, Noriah. Teori dan Kritikan Sastera Melayu Tradisional, (Selangor:
Dewan Bahasa dan Pustaka, 1993), hal. 110-124
[17] Cf. Jeffery, Arthur. Materials for the History of the Quran Text.
[18] Lester, Toby. The Atlantic Monthly; January 1998; What is the
Koran?; Volume 283, No. 1; halaman 43-56.
[19] Patzia, Arthur G. The Making of the New Testament (Downers Grove,
Illinois: IVP, 1995), halaman 145
[20] Greenlee, J. Harold. An Introduction to New Testament Textual Criticism
(Grand Rapids: Eerdmans, 1964), hal. 68.
[21] Patzia, Arthur G. The Making of the New Testament (Downers Grove,
Illinois: IVP, 1995), hal. 131
[22] Patzia, Arthur G. The Making of the New Testament (Downers Grove,
Illinois: IVP, 1995), hal. 138
[23] Patzia, Arthur G. The Making of the New Testament (Downers Grove,
Illinois: IVP, 1995), hal. 145
[24] Metzger, Bruce Manning. The Text of the New Testament: Its Transmission
Etc. (New York: Oxford U. Press, 1968), hal. 152-4
[25] J.P. Holding http://www.integrityonline15.com/jpholding/tekton/Tekton_02_02_01.htm
[26] Metzger, Bruce M. Manuscripts of the Greek Bible: An Introduction to
Greek Paleography. (New York: Oxford U., 1981) hal. 54-56.
[27] McDowell, Josh. Evidence That Demands A Verdict (San Bernardino:
Campus Crusade/Here's Life, 1972, 1985) 1:40
[28] Metzger, The Text of the New Testament, hal. 39 n. 2.
[29] Norman L. Geisler dan William E. Nix, A General Introduction to the
Bible, ed. rev. (Chicago: Moody, 1986), hal. 390
[30] Metzger, Bruce Manning. The Text of the New Testament (New York:
Oxford U. Press, 1968), hal. 42-45
[31] Copan, Paul. True For You, But Not For Me, (Minneapolis, Minnesota:
Bethany House Publishers, 1998), hal. 98
[32] Norman L. Geisler dan William E. Nix, A General Introduction to the
Bible, ed. rev. (Chicago: Moody, 1986), hal. 408
[33] J.P. Holding http://www.integrityonline15.com/jpholding/tekton/Tekton_02_02_01.htm
[34] Cf. Bruce, F.F. The New Testament Documents: Are They Reliable?
(Downers Grove, Ill.: InterVarsity Press, 1960), hal. 16
[35] Craig L. Blomberg, "The Historical Reliability of the New Testament"
dalam William Lane Craig, Reasonable Faith: Christian Truth and Apologetics,
ed. rev. (Wheaton, Illinois: Crossway Books, 1994), hal. 194.
[36] Norman L. Geisler dan William E. Nix, A General Introduction to the
Bible, ed. rev. (Chicago: Moody, 1986), hal. 430
[37] Lihat bab 29 dari buku Geisler dan Nix, A General Introduction to the
Bible hal. 525-538
[38] Lihat bab 28 dari buku Geisler dan Nix, A General Introduction to the
Bible hal. 511-523
[39] Nelson Glueck, Rivers in
the Desert.
[40] Nelson Glueck, ibid.
[41] J.J. Saunders, "A History
of Medieval Islam" hal 18-20 (London : Routledge, 1972)
[42] J.J. Saunders, Ibid.
Indeks Utama